Penyebab Hilangnya Sidik Jari Seseorang

Pernahkah Anda mengalami berbagai masalah karena sulitnya sidik jari untuk dideteksi? Lantas, apa jadinya jika sidik jari bukan hanya sulit terdeteksi, melainkan hilang?

Fungsi sidik jari

absensi sidik jari

Sidik jari memiliki dua fungsi utama, yakni sebagai penambah gaya gesek dan objek identifikasi seseorang. Dengan adanya sidik jari, seseorang bisa memegang benda lebih erat. Itu sebabnya seseorang yang kehilangan sidik jarinya rentan jika memegang benda yang licin seperti gelas kaca. Gelas bisa jatuh jika tidak ada tangan lain yang menyangganya. Kedua, sidik jari bisa digunakan untuk mengetahui identitas seseorang. Hal itu karena setiap orang memiliki sidik jari yang unik, tidak identik sama dengan orang lain. Bahkan antara satu jari dengan jari lainnya memiliki pola sidik jari yang berbeda meski dalam satu tangan yang sama.

Sulitnya hidup tanpa sidik jari

Seseorang yang kehilangan sidik jari juga akan menemui kendala dalam mengurus kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), paspor, SIM, termasuk mengakses pintu atau gadget yang menggunakan sidik jari sebagai security system. Tidak terbayang bukan betapa susahnya jika seseorang tidak bisa mengakses sendiri ponsel atau laptopnya karena sidik jari yang menghilang. Padahal sejumlah dokumen penting yang tidak terduplikat ada di dalamnya.

Penyebab hilangnya sidik jari (Hand-Foot Syndrom)

Lantas, apa sebenarnya penyebab hilangnya sidik jari seseorang? Menurut dr. Gustaaf Kusno, ada dua penyebab hilangnya sidik jari, yakni genetik dan nongenetik. Jika penyebabnya bukanlah kelainan genetik, sidik jari cenderung bisa kembali lagi. Misalnya, kasus yang dialami kerabat Kusno yang kehilangan sidik jari secara tiba-tiba (idiosyncracy) dan didiagnosis karena cairan soft lens. Terlepas dari benar tidaknya diagnosis tersebut, sidik jari yang menghilang itu telah kembali lagi, terjadi regenerasi.

Lalu, bagaimana dengan hilangnya sidik jari karena adanya kelainan genetik? Untuk yang satu ini sepertinya permanen. Kelainan hilangnya sidik jari sejak lahir disebut dermatopathia pigmentosa reticularis (DPR) dan Naegeli syndrome. Berdasar hasil penelitian, penyebabnya adalah keratin 14 yang membentuk sidik jari tidak dimiliki. Kelainan ini hanya diturunkan kepada anak perempuan. Kusno menjelaskan bahwa dampak lain yang ditimbulkan adalah, penderita kelainan ini berambut sangat halus dan rapuh, kuku yang bergerigi (ridged nails), dan penebalan pada telapak tangan dan telapak kaki. Bahkan bisa juga menyebabkan tidak berfungsinya kelenjar keringat. Akibatnya, penderita rentan terhadap sengatan panas (heat stroke). Jangankan aktivitas berat dan olahraga, aktivitas ringan pun bisa menyebabkan penambahan panas yang bisa mengancam keselamatan penderita.

Selain dua penyebab di atas, ternyata kemoterapi juga bisa merenggut sidik jari seseorang. Seperti yang terjadi pada warga negara Singapura yang kehilangan sidik jarinya setelah mendapatkan pengobatan capecitabine selama tiga tahun. Gejala yang dialaminya adalah kulit telapak tangan dan kaki membengkak, mengelupas (peeling), dan terasa sakit. Sampai akhirnya pola sidik jari hilang. Demikian pula yang terjadi di New York, yang menimpa perempuan 65 tahun. Perempuan yang menjalani pengobatan kanker payudara itu ditolak layanan bank karena tidak memiliki sidik jari (New England Journal of Medicine). Menurut Don Dizon (Time, 20/4/2015), American Society of Clinical Oncology, belum diketahui apakah sidik jari yang hilang karena kemoterapi bisa kembali atau tidak. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal itu.

Jagalah sidik jari Anda!

Sidik jari sangat penting bagi seseorang, terlebih bagi yang hidup di masyarakat yang tentu memiliki sejumlah aturan untuk ditaati. Oleh sebab itu, hendaknya sidik jari yang ada dijaga dengan baik. Hindari kontak langsung dengan zat-zat kimia yang mengancam keberadaan sidik jari secara berlebihan dan atur pola hidup dan pola makan agar terhindar dari ancaman kanker. (KKn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *